Riding ke daerah Kulon Progo memang selalu bikin candu. Jaraknya yang hanya sekitar 20 kilometer dari Kota Jogja tentu menjadi opsi yang menarik untuk sekadar motoran seharian saja.
Pagi itu, setelah saya dan istri mengantar anak ke sekolah, kami lalu menuju ke Kulon Progo. Mumpung kami sedang cuti, ada kalanya kami butuh rekreasi hanya berdua saja.
Kami hanya mengendarai sepeda motor matic Mio M3 125cc. Alasan kami memilih naik motor ini tentu karena kami ingin riding santai, meski ada rasa khawatir karena salah satu tujuan kami nanti adalah Puncak Suroloyo.
Di perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di terowongan irigasi Van Der Wijck yang merupakan peninggalan kolonial Belanda, dibangun sekitar tahun 1909 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Warga sekitar menyebutnya dengan nama Buk Renteng.


Rute berangkat yang kami pilih adalah dari Terminal Jombor menuju Kulon Progo melewati Jembatan Duwet. Jembatan gantung ini didirikan sejak zaman Belanda pada tahun 1930 dan hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua saja.
Selepas melalui Jembatan Duwet ini, kami telah sah memasuki Kabupaten Kulon Progo. Jalan aspal yang halus dan naik turun memang memanjakan bagi siapa pun yang riding melaluinya.

Tujuan kami yang pertama adalah Goa Maria Sendang Sono. Goa Maria ini sudah ada sejak lama dan merupakan salah satu situs ziarah Katolik paling terkenal di Indonesia, yang sering disebut sebagai “Lourdes”-nya Jawa.
Sebagai tempat ziarah, Goa Maria Sendang Sono ini sangat teduh dan tenang sehingga membuat berdoa menjadi khusyuk dan betah berlama-lama.

















Selepas ziarah kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Suroloyo. Rencananya kami ingin ngopi di Kedai Kopi Suroloyo yang berada di dekat area parkir Puncak Suroloyo.
Di rute inilah motor Mio M3 125 kami diuji. Tanjakannya sangat curam dan berkelok-kelok. Untungnya kami berhasil sampai di atas tanpa perlu turun dari motor, meskipun harus telaten untuk mengurut gasnya.
Sayangnya, begitu sampai di Puncak Suroloyo, coffee shop yang kami tuju ternyata tutup. Hal ini sebenarnya sudah sesuai dengan feeling saya sejak tadi selama perjalanan, karena suasananya begitu sepi dan tidak ada wisatawan sama sekali.



Karena tutup, tempat ngopi kami alihkan ke Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Kedai kopi ini sudah sangat sering saya sambangi, bahkan sejak tahun 2015 saat tempat ini belum begitu terkenal. Saya juga sering merekomendasikannya kepada teman-teman.
Kami memesan menu makan siang berupa ayam goreng dan ikan pindang beserta sayur lompong. Lompong merupakan sebutan untuk batang daun talas atau keladi. Teksturnya empuk dan berserat setelah dimasak, serta cocok dijadikan sayur lodeh.
Untuk kopinya, kami memesan arabika dengan biji kopi dari Bukit Menoreh. Karakter biji kopi ini memiliki sugar browning yang dominan serta tingkat keasaman (acidity) yang cenderung rendah, sehingga menghadirkan sensasi manis alami.
Di kedai ini, kita juga bisa memesan kopi secara paketan. Artinya, kopi akan dihidangkan bersama camilan tradisional seperti gorengan, geblek goreng, ketela rebus, dan kacang rebus.



Hal yang saya suka dari Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat ini adalah tempatnya yang nyaman sehingga membuat betah berlama-lama atau untuk beristirahat. Selain itu, rasa minuman dan makanannya juga konsisten. Ditambah lagi, pemilik kedainya yaitu Pak Rohmat sangat ramah dalam menyapa para tamu.
Sekian perjalanan kami ke Kulon Progo. Perjalanan yang sederhana namun cukup untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali ke rutinitas.